skip to Main Content
Son Heung-min Semangat Untuk Raih Medali Emas Sepakbola Asian Games

Son Heung-min Semangat Untuk Raih Medali Emas Sepakbola Asian Games

Salah satu ajang olahraga terbesar di Asia sedang berlangsung, akhir pekan nanti akan dilangsungkan pertandingan final cabang olahraga sepakbola di Asian Games 2018. Korea Selatan akan memperebutkan medali emas melawan Jepang. Kapten Korea Selatan Son Heung-min sangat bersemangat untuk bisa meraih medali emas.

Akhir pekan ini akan jadi penentu bagi salah satu rivalitas terbesar sepakbola di kawasan Asia. Tim Jepang tentu ingin meraih medali emas, akan tetapi untuk seluruh skuat Korea selatan motivasinya pasti lebih besar lagi. Medali emas untuk Korea Selatan berarti 20 pemain yang masuk dalam skuat akan memperoleh bebas wajib militer. Itulah alasan Tottenham Hotspurs memberikan ijin kepada Son untuk absen di beberapa laga awal Liga Inggris.

Kemenangan pada laga final tersebut berarti kapten Korea selatan berusia 26 tahun tersebut bisa menjalani kontraknya secara penuh, baik di Tottenham atau apabila nantinya ia ditransfer ke klub lain dengan banderol sesuai dengan kemampuannya. Apabila Korea Selatan kalah di parta final, maka ia harus pulang ke Negara asalnya saat ia berumur 28 tahun dan menjalani wajib militer selama 21 bulan. Tentunya banyak yang bisa dicapai dari waktu dua tahun tersebut, apabila dibandingkan dengan bayaran yang diterima dari wajib militer.

Situasi itu juga tentunya menimbulkan dilema tersendiri bagi pelatih Korea Selatan yaitu Kim Hak-bom yang harus mempertimbangkan dan memilah siapa saja yang diikutsertakan dalam skuat timnas Korea Selatan, karena keputusannya bisa jadi akan membuat perubahan yang cukup berarti bagi kehidupan orang lain.

Korea telah ikut serta dalam turnamen sepakbola Asian Games sebelumnya, dan mereka berhasil juara serta pemain yang berlaga membela timnas kala itu berhasil mendapatkan bebas wajib militer, hal itu terjadi pada tahun 2014 yang lalu dimana saat itu Son bermain untuk Bayer Leverkusen dan pihak klub menolak untuk memberikan ijin bagi Son untuk mengikuti turnamen yang tidak diadakan oleh FIFA. Tentunya ini adalah kesempatan yang bisa dibilang sekali seumur hidup bagi Son.

Bagi Korea Selatan, kekalahan bukan merupakan pilihan. Ada banyak kritik yang diterima setelah kekalahan yang mengejutkan dengan skor 2-1 dari timnas Malaysia di pertandingan kedua pada fase grup, saat itu Kim melakukan rotasi pemain yang dituding menjadi penyebab kekalahan tersebut karena pemain pelapis memiliki penampilan yang jauh dibanding pemain inti.

Setelah itu timnas Korea Selatan berbenah dan hasil bagus pun berhasil mereka dapatkan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya. Mereka berhasil mengalahkan Iran 2-0 pada babak selanjutnya, disusul dengan kemenangan 4-3 atas Uzbekistan lewat babak tambahan, gol bahkan dicetak lewat penalti di menit ke-118. Dua hari kemudian Korea Selatan mengalahkan Vietnam 3-1 sekaligus memastikan tampil di partai final melawan Jepang.

Sementara calon lawan mereka, timnas Jepang mencapai parta final seperti pesawat yang tidak terdeteksi radar. Mereka datang ke turnamen ini dengan pemain yang bisa dikatakan kurang punya nama besar, timnas Jepang tidak memanggil pemain yang berumur, bahkan mereka hanya memanggil pemain dengan usia dibawah 21 tahun.

Sepertinya Jepang memanfaatkan turnamen ini sebagai persiapan bagi skuatnya guna menghadapi event yang mereka anggap lebih penting, yaitu Olimpiade 2020 di Tokyo. Dengan begitu sepertinya Jepang tampil dengan tanpa beban, dan tekanan tentunya lebih terasa bagi Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top